Meningkatkan Reputasi dengan CSR (Corporate Social Responsibility)

Standar

Latar Belakang

Reputasi menjadi salah satu modal penting bagi promosi sebuah usaha karena reputasi yang baik bukan saja menjadi propaganda iklan yang efektif namun juga kepercayaan publik dan konsumen kepada usaha yang dilakukan. Keberlangsungan bisnis yang terus-menerus sangat didukung oleh reputasi perusahaan dan produk yang baik . Konsep sustainability dilakukan perusahaan dengan menjaga lingkungan sehingga kebutuhan tersebut bisa dipenuhi bukan hanya dimasa sekarang , tetapi juga dimasa depan. Sustainability itu sendiri dilakukan meliputi banyak faktor antara lain sosial, ekonomi dan lingkungan.

Reputasi sendiri diartikan sebagai pendapat (lebih teknis, evaluasi sosial) dari kelompok entitas, sebuah sekelompok orang atau organisasi pada kriteria tertentu. Ini adalah faktor penting dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, bisnis, komunitas online atau status sosial . Reputasi dapat dianggap sebagai komponen dari identitas sebagaimana didefinisikan oleh orang lain.

Gambaran tentang tanggung jawab sosial Perusahaan atau dikenal sebagai CSR (Corporate Social Responsibility) yang sekarang ini menjadi isu yang semakin populer dan bahkan ditempatkan pada posisi yang terhormat. Karena itu kian banyak pula kalangan dunia usaha dan pihak-pihak terkait mulai merespon wacana ini, tidak sekedar mengikuti tren tanpa memahami esensi dan manfaatnya.

Program CSR merupakan investasi bagi perusahaan demi pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability) perusahaan dan bukan lagi dilihat sebagai sarana biaya (cost centre) melainkan sebagai sarana meraih keuntungan (profit centre). Program CSR merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Tetapi masyarakat mempertanyakan juga akan mempertanyakan apakah perusahaan yang berorientasi pada usaha memaksimalisasi keuntungan ekonomis memiliki komitmen moral untuk mendistribusi keuntungannya dalam membangun masyarakat lokal.

Penerapan program CSR merupakan salah satu bentuk implementasi dari konsep tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG), dengan adanya ini maka dimaksudkan agar perilaku pelaku bisnis mempunyai tujuan yang bisa dijadikan rujukan dengan mengatur hubungan kepentingan pemangku kepentingan (stakeholders) yang dapat dipenuhi secara proporsional.

Konsep ini mencakup berbagai kegiatan dan tujuannya adalah untuk mengembangkan masyarakat yang sifatnya produktif dan melibatkan masyarakat di dalam dan di luar perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, meski perusahaan hanya memberikan kontribusi sosial yang kecil kepada masyarakat tetapi diharapkan mampu mengembangkan dan membangun masyarakat dari berbagai bidang.

Kesadaran menjadi kondisi ideal dalam konteks pemberdayaan masyarakat yang sering diimplementasikan dalam bentuk program CSR dan hal ini merupakan aktivitas yang lintas sektor dan menjadi modal sosial dimana harus dioptimalkan melalui mekanisme kemitraan yang berperan meningkatkan sosial-ekonomi masyarakat dan komunitas lokal yang berada di sekitar perusahaan. Program ini diimplementasikan dan diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat dalam mencapai sosial-ekonomi yang lebih baik bila dibandingkan dengan sebelum adanya kegiatan pembangungan sehingga masyarakat ditempat tersebut diharapkan lebih mandiri dengan kualitas kehidupan dan kesejahteraanya yang lebih baik dengan tercapainya sasaran kapasitas masyarakat dan sasaran kesadaran. Sasaran kapasitas masyarakat harus dapat dicapai melalui upaya pemberdayaan (empowerment) agar anggota masyarakat dapat ikut dalam proses produksi atau institusi penunjang dalam proses produksi, kesetaraan (equity) dengan tidak membedakan status dan keahlian, keamanan (security), keberlanjutan (sustainability) dan kerjasama (cooperation).

Kegiatan CSR penting dalam upaya meningkatkan reputasi perusahaan yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan baik dari konsumen maupun mitra bisnis perusahaan tersebut.

Pembahasan

Definisi CSR menurut World Business Council on Sustainable Development adalah komitmen dari bisnis atau perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Definisi lain, CSR adalah tanggung jawab perusahaan untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan dan harapan stakeholders sehubungan dengan isu-isu etika, sosial dan lingkungan, di samping ekonomi (Warta Pertamina, 2004).

Sedangkan Petkoski dan Twose (2003) mendefinisikan CSR sebagai komitmen bisnis untuk berperan untuk mendukung pembangunan ekonomi, bekerjasama dengan karyawan dan keluarganya, masyarakat lokal dan masyarakat luas, untuk meningkatkan mutu hidup mereka dengan berbagai cara yang menguntungkan bagi bisnis dan pembangunan.

Dalam prinsip responsibility, penekanan yang signifikan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan. Di sini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders perusahaan, menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa bagi stakeholders perusahaan, dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Sedangkan stakeholders perusahaan dapat didefinisikan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Termasuk di dalamnya adalah karyawan, konsumen, pemasok, masyarakat, lingkungan sekitar, dan pemerintah sebagai regulator. CSR sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja. Tapi tanggung jawab perusahaan harus berpijak pada triple bottom lines, yaitu finansial, sosial dan lingkungan. Karena kondisi keuangan saja tidak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan karena harus memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan hidup. Sudah menjadi fakta bagaimana resistensi masyarakat sekitar, di berbagai tempat dan waktu muncul ke permukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan aspek-aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidupnya (Idris, 2005).

Perusahaan-perusahaan yang memiliki reputasi bagus, umumnya menikmati enam hal, yaitu hubungan yang baik dengan para pemuka masyarakat, hubungan positif dengan pemerintah setempat, risiko krisis yang lebih kecil, rasa kebanggaan dalam organisasi, saling pengertian antara internal maupun eksternal, meningkatkan kesetiaan para staf perusahaan (Anggoro, 2002).

Ada tiga alasan penting mengapa perusahaan harus merespon dan mengembangkan tanggung jawab sosial sejalan dengan operasi usahanya, yaitu:

Pertama, perusahaan adalah bagian dari masyarakat sehingga harus disadari bahwa mereka beroperasi dalam suatu tatanan lingkungan masyarakat. Kegiatan sosial ini berfungsi sebagai kompensasi atau upaya imbal balik atas penguasaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi oleh perusahaan yang kadang bersifat ekspansif dan ekploratif, di samping sebagai kompensasi sosial karena timbulnya ketidaknyamanan (discomfort) pada masyarakat. Sehingga perlu kesadaran tentang pentingnya implementasi CSR yang semakin heboh dengan kepedulian masyarakat global terhadap produk yang ramah lingkungan dan diproduksi dengan memperhatikan kaidah-kaidah sosial.

Kedua, kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya bersimbiosis mutualisme dimana untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat maka perusahaan juga harus untuk memberikan kontibusi positif kepada masyarakat sehingga bisa tercipta hubungan yang harmonis dan mengangkat citra dan performa perusahaan. Karena perusahaan harus sadar bahwa tanggung jawabnya bukan hanya sekedar kegiatan ekonomi untuk menciptakan keuntungan (profit) demi kelangsungan bisnisnya, melainkan juga tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Ketiga, kegiatan tanggung jawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam dan menghindari konflik sosial. Karena potensi konflik itu bisa berasal akibat dampak operasional perusahaan ataupun akibat kesenjangan struktural dan ekonomis yang timbul antara masyarakat dengan perusahaan.

Di dalam News Of PERHUMAS (2004) disebutkan bahwa bagi suatu perusahaan, reputasi merupakan aset yang paling utama dan tak ternilai harganya sehingga perlu upaya, daya dan biaya digunakan untuk memperolehnya. Ada beberapa aspek yang merupakan unsur pembentuk reputasi perusahaan, yaitu kemampuan finansial, mutu produk dan pelayanan, fokus pada pelanggan, keunggulan dan kepekaan SDM, reliability, inovasi, tanggung jawab lingkungan,  tanggung jawab sosial, dan penegakan GCG.

Berdasarkan pertimbangan nilai dan prinsip GCG, maka dalam rangka meningkatkan reputasi sebagai sebagai upaya untuk menunjang kesinambungan investasi, maka perusahaan harus memperhatikan beberapa hal berikut:

  1. Adil kepada seluruh stakeholders (tidak hanya kepada shareholders)
  2. Proaktif dimana bisa berperan sebagai agent of change dalam pemberdayaan masyarakat di daerah operasi
  3. Efisien, berhati-hati dalam pengeluaran biaya yang sia-sia terutama untuk penyelesaian masalah yang timbul dengan stakeholders fokus di sekitar daerah operasi.

Dari artikel di atas, bahwa perilaku yang ada dalam meningkatkan reputasi melalui CSR cukup banyak, yaitu:

  1. Tanggung jawab dimana sebuah perusahaan haruslah mempunyai rasa peduli atas apa yang telah dilakukannya pada masyarakat sekitarnya. Karena dalam hal ini, CSR menyangkut nama perusahaan secara global bukan individu sehingga reputasi pun sangat diperlukan agar tetap adanya keberlanjutan perusahaan.
  2. Hubungan yang baik dengan masyarakat dimana perilaku ini hukumnya wajib bagi sebuah perusahaan yang memang ingin memperoleh reputasi yang baik. Karena yang menilai baik tidaknya perusahaan adalah masyarakat sekitar yang tentunya peka dalam setiap perubahan yang terjadi di perusahaan.
  3. Hubungan positif dengan pemerintah setempat dimana dalam hal perijinan bangunan ataupun jalannya produksi ataupun bisnis perusahaan tergantung pula pada aturan di tempat yang bersangkutan. Tanpa adanya hubungan baik dengan pemerintah, bisa saja reputasi perusahaan juga akan dipengaruhi sehingga mengancam keberlangsungan perusahaan.
  4. Rasa kebanggaan dalam organisasi dimana setiap karyawan harus menanamkan bisa bangga pada perusahaan sehingga ada rasa memiliki dan reputasi akan terus bertahan.
  5. Saling pengertian antara internal maupun eksternal dimana harus adanya timbal balik antar perusahaan dengan staf, perusahaan dengan masyarakat ataupun perusahaan dengan para stakeholders.
  6. Kesetiaan para staf perusahaan dimana hal ini sangatlah susah diukur dengan angka Karena perusahaan juga tidak tahu apa yang ada di pikiran para staf. Oleh karena itu untuk meningkatkan kesetiaan, perusahaan harus memberi kenyamanan, keamanan dan rasa memiliki perusahaan.
  7. Adil dimana perusahaan harus menyeimbangkan kepentingan shareholders dan stakeholders karena keduanya juga saling mendukung secara financial maupun non finansial.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s