- Semarang -

Senin, 6 Pebruari 2012 perjalanan dilanjutkan ke Semarang. Qt menempuh perjalanan dari Yogyakarta lanjut Magelang lalu baru sampailah di Semarang dan ditempuh sekitar 3 jam (bbeeeggggghhh). Pas di Magelang qt sempat makan duren dulu, yummmiiiii. First, qt ke Candi Songo dulu yang berada di atas gunung so udaranya dingin bangeddddd lalu lanjut makan di salah satu lesehan (aslinya aq lupa namanya). Udah hampir sore dan harus segera ke tengah kota Semarang buat mampir Lawang Sewu yang merupakan tujuan utama. So amazing, bagus, mistis dan tentunya tempat yang  bagus buat poto-poto, itulah kesan pertama q saat berkeliling disana. Udah jam 17.00 itu artinya harus segera pulang coz tempat wisata udah ditutup, akhirnya beli oleh-oleh aja dech!!!! Perjalanan pulang sangatlah capek dan qt memutuskan makan “nasi kucing” di Yogyakarta aja lalu balik hotel dan tiduuurrrr.

Selasa, 7 Pebruari 2012 saatnya belanja di Mirota dan malioboro buat oleh-oleh, nggak lupa qt naek beck lo!!! Pas mau balik hotel ternyata ada Pratika dan Vidya yang juga nginep di Jl. Dagen so aq mampir dulu dunk coz da lama banged nggak ketemu mereka. Jam 14.00 menuju bandara Adi Sucipto dan qt terbang menuju Surabaya jam 16.00, Bye Yogyakarta and Semarang, I have a new story in my life ^^

- Yogyakarta -

Gambar

Sabtu, 4 Februari 2012 capcus naek kereta api sancaka menuju Yogyakarta bersama adek q si Ndoet. Berangkat jam 15.00 dan senang banged ternyata ada fasilitas colokan buat nge-charge blackberry qt yang sering drop baterainya, wkwkwkwkwk. Nyampe jam 20.00 dan ternyata ujan so naek becak dech menuju hotel Peti Mas di Jl. Dagen no. 27, check in lalu jalan-jalan ke malioboro buat nyari makan malam dan tentunya menghirup udara Yogyakarta yang udah 2 tahun nggak akoe kunjungi ^^

Minggu, 5 Februari 2012 perjalanan dimulai, qt dijemput mas Jafar yang udah qt booking selama 2 hari (hehehehehehe). Rute hari ini cukup panjang, yaitu :

* Candi Borobudur, pagi-pagi udah naek turun tangga (like this) plus dapat fans dari Malaysia yang minta poto-poto ama aq

* Kaliurang, suasana nggak jauh beda ama Tretes ato Batu lah …

* Lunch di House of Raminten, masakan lumayan enak dan pelayannya cakep-cakep ^^

* Candi Prambanan

* Taman Pintar, tapi abis keluar dari ditu kok qt nggak pintar yach (hihihihiih)

* Belanja di Dagadu

* Dinner di daerah Taman Siswa sambil reunian ama beberapa temen

* Balik hotel, mandi dan istirahat

* Ternyata ada yang ajak ke Pasar Malam di Alun-alun coz hari ini bertepatan dengan Mulid Nabi Muhammad SAW dan di Yogyakarta ada acara Sekaten

Cukup mencapekkan hari ini so siapkan energi buat perjalanan berikutnya ^^

Mempertahankan Reputasi Perusahaan dengan Corporate Social Responsibility

Saat suatu perusahaan yang sudah mempunyai reputasi yang baik maka akan timbul semacam paradoks yang berkembang dalam pengelolaannya dimana semakin dibutuhkan, reputasi cenderung semakin sulit untuk dikelola karena kehilangan reputasi yang baik jauh lebih gampang dibanding usaha untuk membangunnya. Sebagian orang menyatakannya dalam metafora, dibutuhkan sepuluh tahun untuk membangun reputasi yang baik, tetapi cukup satu menit saja untuk meruntuhkannya sehingga mempertahankan reputasi seseorang tidaklah mudah, apalagi mempertahankan reputasi yang baik dari perusahaan.
Secara makro kunci dari pengelolaan reputasi adalah behave well mengingat reputasi perusahaan merupakan resultan dari pemenuhan terhadap ekspektasi rasional dan ekspektasi emosional masing-masing stakeholder terhadap perusahaan dalam setiap momen interaksinya. Ekspektasi rasional seperti kita ketahui bersama lebih didasarkan atas kinerja atau kualitas dari produk yang dikonsumsi sedangkan ekspektasi emosional lebih didasarkan atas perilaku dan persepsi stakeholder.
Reputasi perusahaan merupakan aset strategis, karena reputasi dapat meningkatkan value dari perusahaan yang bersangkutan dan menunjukkan betapa reputasi yang kuat membantu perusahaan tidak hanya dalam menjual produknya dengan harga yang menguntungkan, tetapi juga dalam menarik karyawan berpotensi tinggi untuk bekerja padanya. Perusahaan dengan reputasi yang kuat cenderung menjadi perusahaan idaman dan tambatan bagi profesional yang qualified.
Beberapa perusahaan melakukan pengukuran reputasi dengan pendekatan media coverage untuk kemudian menterjemahkan isinya ke dalam reputation score cards. Memang opsi ini lebih baik daripada tidak ada action evaluasi sama sekali, walaupun opsi ini bukannya tidak mempunyai kelemahan. Kalau diperhatikan secara lebih seksama akan tampak betapa pendekatan ini lebih fokus kepada merekam outcome dari aktivitas humas di media, sedangkan pengaruhnya terhadap khalayak sasaran luput dari pengukuran.
Secara sepintas, ada empat indikator yang dapat dipakai untuk menaksir seberapa kuat reputasi suatu perusahaan. Pertama, daya saing perusahaan dalam menjual produknya dengan harga premium pada kurun waktu yang tidak sebentar. Kedua, kesanggupan perusahaan dalam merekrut dan mempertahankan staf kunci yang berkualitas. Ketiga, konsistensi perusahaan dalam mendapatkan dukungan words of mouth berupa rekomendasi positif baik dari sisi pasokan maupun pemasaran. Keempat, keberpihakan publik ketika terjadi masalah, tidak saja dalam kemampuan perusahaan untuk berkelit dari media ataupun kritikan publik.
Penulis juga mengamati, terutama saat keadaan memaksa perusahaan untuk berubah, tidak sedikit perusahaan dalam mengelola reputasinya hanya dengan perubahan yang sifatnya hanya menyentuh kulit. Perubahan kosmetis seperti penggantian logo semata tidak akan berarti banyak. Pengelolaan reputasi, apalagi bagi perusahaan yang baru saja mengalami krisis, membutuhkan perubahan yang fundamental dalam satu proses yang terintegrasi. Tidak lain, karena reputasi bukanlah sekedar masalah kepercayaan diri tetapi menyangkut jalinan yang didasarkan atas kepercayaan (trust) dan integritas.
Reputasi yang kuat dibangun dari tindakan operasional sehari-hari yang konsisten dengan tata nilai perusahaan, tidak cukup satu gebrakan saja. Diperlukan segmentasi dan penentuan skala prioritas untuk membidik khalayak yang secara kritis mempunyai dampak yang tinggi (high impact), misalnya influencer yang dapat merubah opini. Untuk menjembatani perusahaan dengan khalayaknya baik dalam masa krisis maupun masa ’damai’ tentu saja dibutuhkan komunikasi yang proaktif dan terencana dengan baik.
Pesan yang sesuai dengan budaya komunitas yang disasar harus dibuat sedemikian rupa sehingga lebih dari sekedar dapat diterima tetapi betul-betul menarik, menggugah, dan dapat menjadi ’mantra’. Untuk itu pesan harus dikemas secara unik dan disampaikan secara konsisten kepada khalayak yang tepat. Outreach yang baik dengan melibatkan media berpengaruh jelas sangat penting artinya untuk penyampaian pesan. Demikian halnya dengan program-program yang berkenaan dengan corporate social responsibility (CSR) dan sponsorship yang sifatnya strategis. Pembentukan citra yang positif dengan iklan juga akan mampu meningkatkan reputasi perusahaan.
Pengelolaan reputasi merupakan tanggung jawab bersama, tidak cukup hanya dibebankan pada bagian PR atau bahkan pimpinan perusahaan semata. Sebaliknya, tanpa dukungan dari manajemen puncak, pengelolaan reputasi cenderung akan berjalan di tempat. Masing-masing pihak dituntut untuk tidak hanya sadar atau percaya terhadap proses pengelolaan reputasi, tetapi juga berkomitmen untuk secara konsisten mewujudkannya. Untuk itu harus ada konsensus antara manajemen dan karyawan dalam tata nilai utama (core values) dan tujuan perusahaan. Meskipun demikian, perlu diorganisasikan dengan jelas antara pengelolaan reputasi perusahaan dan pengelolaan reputasi produk. Masing-masing mempunyai porsi dan penanggung jawab sendiri-sendiri dan diatur sedemikian rupa agar tidak saling berbenturan sehingga tidak kontra produktif.
Pengelolaan reputasi yang efektif tidak bisa dilepaskan dari peran bisnis perusahaan dalam menangkap peluang (ofensif) dan menanggulangi ancaman (defensif). Strategi ofensif bisa diterapkan saat launching produk baru, melakukan akuisisi atau merubah model bisnis. Dengan demikian, reputasi menjadi bagian dari karakter, budaya, dan DNA perusahaan, yang penulis perlu tekankan kembali: harus direfleksikan dalam kegiatan operasional sehari-hari. Tidak boleh dilupakan, karyawanlah yang dalam prakteknya berperan sebagai duta yang akan mempengaruhi reputasi perusahaan.